Blog Archive
Friday, September 18, 2009
Maafkan Aku..............
14-09-09
Dan tak lagi aku sanggup menanggung bebannya
Lunglai tubuhku demi menatap duka yg tergetar di dlm jiwamu
Marah dan kecewamu sesakkan dadaku
Sedang aku tak punya kata lain, hanya maaf yang tersisa padaku
Akan kuhindari yang seharusnya ku hindari, dan tak akan ku temui dia kembali di jalan ini.
Biarlah jalan yg lain temukan aku hingga aku taklagi jadi duri penghalang langkahmu.
Jangan sampai menetes air mata di pipimu,
Menperbesar dosaku terhadapmu.
kobarkan marahmu, ungkap seluruh kecewamu.
Tapi ku mohon padamu, jangan kau teteskan air matamu.
Melangkah aku menjauh, menjauh dan makin menjauh
Hingga aku akan hilang dari pandangmu pada mata serta hati
Saturday, September 12, 2009
Cahaya semu pd dia nya
05 September 2009 jam 23:45
Aku malu ktika menghadap pdMU, selalu keluhan kusampaikan. Harusnya sembah sujud ku yg utama pdMU. Aku bersandar pdMU, nyaris tenggelam tak beriak pd permukaan sekalipun. Ak berduka pd diri yg selalu lupa bahwa keinginanku sumber segala derita. Nyata tertampar pd wajah tp ak tak jg tersadar, ttp mabuk akan sesuatu. Ampuni ak yg menzhalimi izinMU, buat ak buta ketika dunia memancarkan cahaya semu. Ak telah keliru dlm melukis kehendak, nyaris mendustai ap yg sedang d jalani. Ak pada nya mengaburkan ak padaMU.
Terluka
Bidak-bidak yg terluka dlm sebuah ajang.
Menanti lajur berikutnya, tentu dgn langkah terseok.
Tertatih-tatih digilas putaran roda nasib.
Menyakitkan sebagai sebuah tontonan, lebih sakit memegang peranan.
Tak bs tinggal kan pergi begitu saja, ketika terpasung pd batu sebesar gajah.
Parau jeritan, sayup-sayup tendang pada gendang cuping lebar.
Menari dgn seksama, menepuk dada dongakkan kepala.
Pongah tatapan pd rimbunnya dedaunan yg kering termakan musim.
Hilang d tengah lautan gelap, meratap harapkan ad yg datang beri tetesan tuk terangi jiwa yg tengah tergantung.
Menanti lajur berikutnya, tentu dgn langkah terseok.
Tertatih-tatih digilas putaran roda nasib.
Menyakitkan sebagai sebuah tontonan, lebih sakit memegang peranan.
Tak bs tinggal kan pergi begitu saja, ketika terpasung pd batu sebesar gajah.
Parau jeritan, sayup-sayup tendang pada gendang cuping lebar.
Menari dgn seksama, menepuk dada dongakkan kepala.
Pongah tatapan pd rimbunnya dedaunan yg kering termakan musim.
Hilang d tengah lautan gelap, meratap harapkan ad yg datang beri tetesan tuk terangi jiwa yg tengah tergantung.
Berdiri di perbatasan Bagikan
29 Agustus 2009 jam 11:54
Ku langkahkan kaki & ku tinggalkan jejak d tengah lautan penuh rasa.
Nikmat, yg disebut anugerah terlahir pdku dgn nama "Izin Tuhan".
Hingga ketika rasa2 itu mulai bercerita pdku ttg indah nya perjalanan mereka d alam fana, ak palingkan wajahku kt4 sujud yg mulia.
Ku rebahkan jasadku dlm naunganMU, ubun2ku d telapak tanganMU. Bersujud ak d dpan keagunganMU.
SertaMU ak berbisik
Tuhan, jdkan yg terbaik menurutMU bg hamba d tengah perjalanan ini.
Ketika kehendak2ku mulai berkata2, maka ksalahan selalu menyertai.
Hanya Engkaulah mengetahui & pdMU rahasia kbenaran berlutut.
Ya Tuhan, ak lah hambaMU yg berdiri d perbatasan, siapkan diri nantikan titahMU
Berdiri ak d perbatasan,
Nikmat, yg disebut anugerah terlahir pdku dgn nama "Izin Tuhan".
Hingga ketika rasa2 itu mulai bercerita pdku ttg indah nya perjalanan mereka d alam fana, ak palingkan wajahku kt4 sujud yg mulia.
Ku rebahkan jasadku dlm naunganMU, ubun2ku d telapak tanganMU. Bersujud ak d dpan keagunganMU.
SertaMU ak berbisik
Tuhan, jdkan yg terbaik menurutMU bg hamba d tengah perjalanan ini.
Ketika kehendak2ku mulai berkata2, maka ksalahan selalu menyertai.
Hanya Engkaulah mengetahui & pdMU rahasia kbenaran berlutut.
Ya Tuhan, ak lah hambaMU yg berdiri d perbatasan, siapkan diri nantikan titahMU
Berdiri ak d perbatasan,
Belum Selesai.......?
Ak msh berdiri di tepian itu
Ketika buliran debur ombak yg berkawan pasir hampiri ak di ujung kaki
Kulihat jejak yg telah lalui
tapak yg samar bekas kaki walapun mash jelas terlihat
Di ufuk mentari mengintip, seolah enggan tinggalkan senja
Dan deru sang Angin menerpa wajahku
Berpeluh di dahi, terpanggang kulitku semakin menghitam
Hanyalah sisa-sisa sang Surya yg tengah di perbatasan
Aku hanya berdiam diri, menanti langkah berikut
Tanya belum selesai.....
"Apakah jalanku masih di sini?"
Ketika buliran debur ombak yg berkawan pasir hampiri ak di ujung kaki
Kulihat jejak yg telah lalui
tapak yg samar bekas kaki walapun mash jelas terlihat
Di ufuk mentari mengintip, seolah enggan tinggalkan senja
Dan deru sang Angin menerpa wajahku
Berpeluh di dahi, terpanggang kulitku semakin menghitam
Hanyalah sisa-sisa sang Surya yg tengah di perbatasan
Aku hanya berdiam diri, menanti langkah berikut
Tanya belum selesai.....
"Apakah jalanku masih di sini?"
Renungan
20 Agustus 2009 jam 22:46
Dalam diam, ak beraudensi dengan hambaNYA dlm hatiku
Terbersit sebuah tanya "di setiap langkah, apakah msh bersamaNYA"
Kemudian hamba itu tertunduk, menelisik apa2 yg telah terdahulu
Kembali terlintas ap yg telah terjadi, kmana saja melangkah dan sdang dmn saat ini
Telah banyak sesal terlampaui, telah menggunung ampunan di haturkan kepadaNYA Rabbul Alamin
Sepenggal kisah yg jd perhatian, ttg ku yg berbuat salah kpd ....
Dan ak telah khilangan, renunganku terhenti dsana. Tersadar ak tak bisa berbuat ap2
Terbersit sebuah tanya "di setiap langkah, apakah msh bersamaNYA"
Kemudian hamba itu tertunduk, menelisik apa2 yg telah terdahulu
Kembali terlintas ap yg telah terjadi, kmana saja melangkah dan sdang dmn saat ini
Telah banyak sesal terlampaui, telah menggunung ampunan di haturkan kepadaNYA Rabbul Alamin
Sepenggal kisah yg jd perhatian, ttg ku yg berbuat salah kpd ....
Dan ak telah khilangan, renunganku terhenti dsana. Tersadar ak tak bisa berbuat ap2
Perbatasan
Dan nyatalah hanya Tuhan lah yang kuasa menentukan,
ak hanya di beri kesempatan untuk berkuasa
Berjalan melakukan proses sesuai dengan kehendak NYA……
Saat ini yang kusadari adalah aku tak punya kemampuan apa-apa
Akulah yang bersalah….
Dan aku hanya mampu dengan ridho NYA …
DIA lah yang benar
Aku hanya inginkan menjalankan perintah NYA
Menjalankan proses yang di kehendaki NYA
Menyerahkan seutuhnya diriku kepada NYA
Aku hanya bersiap-siap di perbatasan
Dan menanti untuk melaksanakan apapun titah dari pada NYA
Subscribe to:
Posts (Atom)